Kembali ke Blog
Dari Surabaya ke Dubai: Perjalanan Karier Seorang Engineer Indonesia
Kisah SuksesKisah NyataDubaiEngineer

Dari Surabaya ke Dubai: Perjalanan Karier Seorang Engineer Indonesia

20 April 202610 menit baca

Dari Surabaya ke Dubai: Cerita Nyata yang Bikin Termotivasi

Catatan: Kisah ini dibagikan dengan izin dari yang bersangkutan. Nama disamarkan.

Namanya Reza, 29 tahun. Mechanical engineer lulusan ITS Surabaya. Delapan bulan lalu, dia masih kerja di sebuah perusahaan BUMN di Surabaya dengan gaji Rp 8,5 juta per bulan. Sekarang, dia mechanical engineer di proyek konstruksi megah di Dubai dengan gaji AED 8.000/bulan — setara sekitar Rp 35 juta.

Ini bukan keajaiban. Ini hasil dari perencanaan yang matang.

Titik Awalnya: Frustrasi yang Jadi Bahan Bakar

"Jujur, awalnya saya frustrasi," cerita Reza. "Sudah 3 tahun kerja, karier stagnan, gaji naik dikit banget. Teman-teman yang sama angkatan tapi di perusahaan swasta sudah jauh di depan."

Suatu malam, dia iseng cek LinkedIn dan lihat lowongan kerja di Dubai yang minta spesifikasi hampir persis dengan pengalamannya. Salaries range-nya: AED 7.000-10.000/bulan.

"Saya pikir, kenapa tidak? Paling tidak coba dulu."

8 Bulan Perjalanan: Apa yang Dia Lakukan?

Bulan 1-2: Research dan Persiapan

Reza mulai serius research. Dia pelajari:

  • Visa apa yang bisa dipakai (Employment Visa, disponsori employer)
  • Perusahaan construction apa yang aktif rekrut di Dubai
  • Berapa gaji realistic untuk senior mechanical engineer 3 tahun pengalaman
Langkah konkret: Update LinkedIn jadi bahasa Inggris total, upgrade foto profesional, mulai connect dengan recruiters di Middle East.

Bulan 2-3: Beresin Dokumen

Ini yang sering diabaikan. Dokumen yang dia persiapkan:

  • CV dalam format internasional (dia pakai GoGlobal AI untuk ini)
  • Sertifikasi profesi (dia ambil PMP dalam 2 bulan)
  • Portfolio project — foto, laporan, drawing yang bisa ditunjukkan
  • Legalisasi ijazah ke Kemnaker

"Bagian legalisasi dokumen itu yang paling bikin stres. Makan waktu hampir 6 minggu bolak-balik ke instansi."

Bulan 3-6: Apply, Ditolak, Apply Lagi

Reza apply ke 47 posisi dalam 3 bulan. Response-nya?

  • 38 tidak ada balasan sama sekali
  • 6 ditolak setelah interview pertama
  • 2 sampai tahap negosiasi gaji
  • 1 dapat offer!

"Yang penting jangan cepat nyerah. Setiap rejection saya analisis — apa yang kurang? Biasanya dari situ saya revisi CV atau prepare interview lebih baik."

Bulan 6-8: Negosiasi dan Persiapan Keberangkatan

Dapat offer pertama: AED 6.500. Reza counter dengan AED 8.000 berbekal riset market rate.

"Saya tunjukkan data gaji benchmark dari beberapa sumber. Akhirnya setuju di AED 8.000 plus akomodasi."

Proses visa memakan 6 minggu. Total dari dapat offer sampai berangkat: hampir 2 bulan.

Lessons yang Bisa Kamu Ambil

1. LinkedIn itu bukan pajangan — aktifkan!

Reza dapat 3 dari 5 interview pertamanya dari recruiter yang hubungi dia di LinkedIn, bukan dari dia yang apply duluan.

2. Dokumen itu urusan bulan, bukan minggu

Mulai urus legalisasi, sertifikasi, dan terjemahan jauh-jauh hari. Jangan tunggu dapat offer baru gerak.

3. Rejection itu data, bukan hukuman

Setiap penolakan punya informasi. Analisis dan perbaiki.

4. Counter offer itu normal

Hampir semua employer expect negosiasi. Jangan langsung terima offer pertama tanpa cek market rate.


Kalau Reza bisa, kamu juga bisa. Mungkin destinasimu bukan Dubai — tapi prinsipnya sama: research yang benar, persiapan yang matang, dan persistensi yang tidak kenal menyerah.

Semangat! 🌟

Siap mulai perjalanan karier globalmu?

Gunakan GoGlobal AI — CV, visa, roadmap, semuanya dalam satu platform.

Mulai Gratis →